Pengantar

“Hai, Satya! Hai, Cakra!” Sang Bapak melambaikan tangan.
“Ini Bapak.
Iya, benar kok, ini Bapak.
Bapak cuma pindah ke tempat lain. Gak sakit. Alhamdulillah, berkat doa Satya dan Cakra.

Mungkin Bapak tidak dapat duduk dan bermain di samping kalian.
Tapi, Bapak tetap ingin kalian tumbuh dengan Bapak di samping kalian.
Ingin tetap dapat bercerita kepada kalian.
Ingin tetap dapat mengajarkan kalian.
Bapak sudah siapkan.

Ketika punya pertanyaan, kalian tidak pernah perlu bingung ke mana harus mencari jawaban.
I don’t let death take these, away from us.
I don’t give death, a chance.

Bapak ada di sini. Di samping kalian.
Bapak sayang kalian.”

Ini adalah sebuah cerita. Tentang seorang pemuda yang belajar mencari cinta. Tentang seorang pria yang belajar menjadi bapak dan suami yang baik. Tentang seorang ibu yang membesarkan mereka dengan penuh kasih. Dan…, tentang seorang bapak yang meninggalkan pesan dan berjanji selalu ada bersama mereka.

Pendapat

Mengingat buku ini sendiri sudah terbit sejak 2014, dan bahkan sudah difilmkan di lebaran 2016 kemarin, jadi gw nggak akan mereview secara lebih jelas tentang ceritanya seperti apa, tapi gw akan lebih pingin cerita saja tentang pendapat pribadi mengenai buku ini, kesan setelah membaca buku ini, dan juga menonton filmnya. Juga gw mau cerita tentang hal-hal yang gw suka sekali, kutipan-kutipannya, spirit buku ini, dan nilai-nilai yang gw lihat sangat positif, menyentuh, dan menempel di gw yang akhirnya gw coba tuangkan disini. Mau curcol aja ribet banget deh sampe 1 postingan begini :p

Telat banget ga gw nulis ini sekarang? asli telat banget kan, kalau dari bukunya sendiri di tahun 2014 silam gw memang nggak pernah denger, cuma tau dan sadar kalau ada film berjudul ini di bioskop di tahun 2016, tapi itupun gw cuma mikir oh ada film ini, oke. Nggak ada sekalipun rasa pingin nonton. Untunglah pas gw dipinjamkan bukunya, membaca habis dalam 1 kali baca, gw pun terkagum-kagum, rasanya belum ada sebuah buku novel yang gw baca yang isinya merubah prinsip hidup gw pada level fundamental. Sekali lagi ya, biar dipertegas lagi, buku ini sudah menyentuh prinsip hidup gw pada level fundamental karena banyak hal yang sangat relate dengan apa yang sudah gw yakini, gw persiapkan, dan gw jalankan.

Rencana, Rencana dan Rencana

"Menikah itu banyak tanggung jawabnya.

Rencanakan.
Rencanakan untuk kalian.
Rencanakan untuk anak-anak kalian."

Sudah memasuki tahun ke 4 sejak gw lulus kuliah dan bekerja, sejak hari pertama kerja gw sudah meyakini sekali bahwa setiap hasil dari pekerjaan yang gw ambil ini harus gw siapkan untuk masa depan gw dan kelak untuk teman hidup gw dan anak-anak, keluarga adiprana. Oleh karena itu gw cukup puas dengan saving minimal 60% dari salary tiap bulan yang sejak bulan pertama bekerja sudah gw simpan, dan 50% dari saving itu sudah gw taruh di saham yang besarnya selalu rutin gw masukkan terus menerus tiap bulan. Ada pasang surut di dunia saham, tapi paling nggak setelah sekarang 4 tahun berjalan, hasilnya mulai ada walau cuannya tidak signifikan tapi progressnya tetap berjalan, tinggal sabar, lebih cermat dalam kapan buy and sell, dan tunggu semoga di saat yang tepat Tuhan memberikan jalan untuk memiliki sebuah hunian yang kelak bisa gw pakai hasil keringat sendiri. Semua memang nggak ada yang instan.

Lalu apa yang sudah gw jalani semakin dikuatkan dengan membaca buku ini. Tentang bagaimana seharusnya seorang ayah dan suami yang berpandangan luas dan penuh perencanaan. Kata kunci yang gw suka sekali dan paling mengena yaitu Perencanaan.
Ya, rencana yang matang sebelum menikah, sebelum memiliki anak, membesarkan mereka, dan sampai sebelum meninggal, semua harus direncanakan dan juga dieksekusi dengan disiplin.

“Bapak minta kalian bermimpi setinggi mungkin.
Dengan syarat, kalian merencanakannya dengan baik.”

Prioritas untuk Keluarga


Setiap laki-laki memang diberikan kewajiban sebagai kepala rumah tangga yang bertugas bekerja dan mencari nafkah bagi keluarganya. Namun untuk mencapai apa yang tadi sudah direncanakan, bisa saja pekerjaan ini menjauhkan diri kita dengan keluarga. Misal sangat bisa terjadi pekerjaan gw di dunia IT ini kelak benar-benar membuat gw harus pulang malam terus dan jarang bertemu keluarga. Ya, ini sudah gw pikirkan dengan baik, namun mumpung sekarang pun juga masih belum ada tanggungan, ya sekaranglah kerja yang bener, biar nanti ketika memang sudah harus memikirkan juga quality time dengan keluarga, gw harus sudah ada di posisi yang bisa pulang on time, kalau perlu pindah kantor ya pindah, selama waktu dirumah itu tercukupi.

Prinsip ini sudah real gw rasakan ketika dijalankan oleh bapak yang dulu sebenarnya ketika gw masih kecil bisa saja dia dikirim kemana-mana selama beberapa bulan, bekerja jauh dari rumah, agar dari sisi karirpun cepat naik ke posisi lebih tinggi. Tapi bapak waktu itu nggak mau ambil itu semua, dan tetap pingin di Jakarta, biar ada waktu untuk melihat dan memperhatikan sekolah gw. Dulu, mungkin gw belum mengerti benar-benar, tapi bapak selalu ada di setiap malam setelah PR gw kerjakan dia selalu cek dan menjadi tempat gw bertanya untuk pelajaran apapun. Bahkan buku cetakpun juga dia baca dan pelajari benar-benar agar bisa membantu mengajarkan gw kalau gw bingung. Hal ini, yang tentu kelak harus gw teruskan ke anak-anak gw biar mereka mendapatkan perhatian yang optimal dari orang tua untuk tumbuh dan dewasa.

Keluarga adalah masa sekarang yang juga akan menjadi masa depan.
Jangan terlalu fokus ke masa depan, karena masa sekarangmu juga sangat membutuhkan kamu

Kenangan akan Abadi


Ada saat dimana dahulu pertama kali gw sangat tergugah dengan apa yang dikatakan Raditya Dika saat interview di salah satu media mengenai mengapa dia menulis blog kambingjantan yang isinya tentang kehidupan dia. Dia cerita yang intinya seperti berikut.

Mengapa dia sering cerita tentang kehidupan dia di blog, agar apabila dia telah tiada, dia pingin kelak anak atau cucunya bisa membaca bagaimana cerita hidup dia. Bagaimana dia menjalani hari-harinya, bagaimana dia menghadapi dunia dengan caranya, dan bagaimana dia bisa memberikan nilai-nilai baik melalui tulisannya. Karena baginya, ketika seseorang sudah tiada, yang tersisa pasti kenangan. Mungkin raga telah mati, tapi kenangan akan hidupnya yang selalu hidup dalam hati orang lain yang akan selalu membuat dia nggak pernah mati. Itu yang membuat seseorang akan selalu hidup, karena kenangan tentangnya nggak akan pernah mati.

Pertama kali gw denger dulu, kayaknya jaman SMA jaman Radit belum seterkenal sekarang, gw mikir panjang banget tuh dan juga gw mengiyakan sekali sama kata-katanya. Maka dari itu muncullah blog pertama gw tempat gw menulis apapun yang ada di kepala yang pada akhirnya berlanjut di blog ini yg gw kemas lebih serius dengan domain sendiri. Kalau blog lama gw apalagi postingan jadul-jadul sih haduh, gitu deh, lagi labil-labilnya haha.

Tapi balik lagi ya, intinya kenangan itu penting, dan medianya pun tidak kalah penting. Kalau Raditya menulis melalui blog yang buat gw juga ikut menulis di blog, gw makin tercengang lagi dengan media video yang ada di Sabtu Bersama Bapak ini. Beneran, nggak pernah terpikir juga buat cerita ini itu melalui video. Kayaknya bisa sih one day gw reguler bikin ini buat generasi penerus pakai video juga, ntar gw buat minggu bersama bapak, ditonton setelah pulang gereja biar bisa doain bapaknya juga habis itu haha.

Karakter yang Baik


Ini yang paling penting, karakter itu paling penting buat dibangun. Cerita ini begitu banyak menitik beratkan pembentukan karakter yang baik dalam keluarga. Bukan cuma buat si bapaknya tapi buat sang ibu nya juga. Diajarkan bagaimana peran ibu harus bisa mengurus anak-anak dan rumah dengan baik, menjaga kebugaran dan kesehatan badan karena sang suami pantas mendapatkannya. Juga sebaliknya bagi si bapak juga bagaimana menjadi seorang suami yang bisa menafkahi keluarga, dan memberikan waktunya untuk keluarganya bertanggung jawab sampai tugasnya kelak selesai meninggalkan penerusnya yang akan memasuki fase menjadi seorang ayah. Sebagai anak juga yang selalu dekat dengan orang tua bahkan jarak jauh tidak menjadi halangan untuk tetap berkomunikasi dengan baik. Ya pokoknya semua bagian dalam keluarga mempunyai peran pentingnya masing-masing. Disini bisa dicari kriteria pasangan yang sejati.

Cerita yang Lengkap

Sebagai penutup, buku ini rasanya harus dibaca oleh siapapun di dunia yang ingin menjadi pribadi yang lebih baik dalam keluarganya. Baik laki-laki atau perempuan, harus baca buku ini biar bisa jadi bahan untuk introspeksi diri lagi. Buku tuntunan hiduplah ini, lengkap! Gw sampai beli bukunya lagi, biar kalau yang ini dikembaliin gw bisa baca ulang lagi. Oh iya, kalau sudah baca bukunya baru coba nonton filmnya ya, bagus banget.