/ 201803

Review Sekala Niskala

Ini cerita mengenai 2 orang kakak-adik yang terlahir di Bali secara kembar dampit (kembar beda jenis kemain). Hubungan mereka begitu dekat, sering bermain bersama, makan bersama, hingga menari bersama. Hingga pada suatu hari Tantra mengambil telur di tempat persembahan yang seharusnya diperuntukkan untuk dewa. Tantra menghilang, ditemukan dalam keadaan koma, mengidap penyakit yang menggerogoti kemampuan otaknya dan perlahan menghilangkan kemampuan panca indranya. Dan cerita berlanjut dengan bagaimana beratnya Tantri, seorang anak 10 tahun, yang akan berpisah dengan saudara kembarnya.

Trailer

Sekala Niskala (The Seen and Unseen)

Review

Judul Sekala Niskala sendiri memiliki arti, yaitu sekala berarti 'yang terlihat' dan sekala yaitu 'yang tidak terlihat'. Dengan durasi total 83 menit, Kamila Andini, sang sutradara, berhasil menuangkan ekspresi hubungan kasat mata dan tak kasat mata yang menyatu melalui cerita antara Tantra dan Tantri. Keseluruhan cerita lebih banyak mengambil setting di rumah sakit tempat Tantra dirawat dan keseluruhan waktunya hanya berbaring disana. Tantri pun harus membiasakan diri dan belajar menerima kenyataan ini. Pengalaman ini membuat Tantri mengalami perjalanan spriritual dengan sering terbangun tengah malam, dibawah bulan purnama, Tantri merasakan keriangan, bermain, dan menari dengan makhluk tak kasat mata. Kemudian di siang hari kembali lagi ia harus menerima kenyataan bahwa Tantra tetap tak berdaya di tempat tidur rumah sakit.

Banyak adegan yang diambil dengan sangat cantik dan menghadirkan emosi yang kental didalamnya, seperti menyaksikan karya seni ditambah pemandangan yang apik. Mulai dari bagaimana tarian saat Tantra dan Tantri menjadi ayam dan berlompat-lompatan di atas ranjang, kemudian saat Tantri menari di pematang sawah di malam hari bersama makhluk tak kasat mata dan puncaknya yaitu saat rasa emosi dan ada kemistisan ini muncul ketika Tantri menari di rumah sakit di malam hari dan makhluk tak kasat mata ini kembali menunjukkan dirinya, mengepak-ngepak, bergulingan memenuhi seluruh layar. Padahal film ini bukanlah film horor, namun keseluruhan setting dituangkan dengan indah.

Keseimbangan dan ketidakseimbangan, juga menjadi poin yang sangat ditonjolkan dalam film ini. Mulai dari kembar dampit yang dianggap sebagai sebuah simbol keseimbangan, kemudian adegan-adegan juga banyak dipisahkan oleh frame waktu yaitu siang dan malam. Bulan menjadi simbol yang sangat kuat ketika adegan malam berjalan. Selain bulan, telur juga menjadi kunci keseimbangan ini. Tergambar bagaimana Tantra menyukai kuning telur, dan Tantri memakan putih telurnya. Ketika keseimbangan ini terganggu maka tentu akan ada efeknya, tergambar pada bagian yang sangat powerful saat Tantri menyantap telur dan tidak menemukan kuning telurnya, kemudian setelah itu dia begitu emosionalnya merusak telur itu. Scene ini menjadi simbolisasi atas perasaan kehilangan Tantra yang dirasakan Tantri.

Proses Panjang

Keseluruhan film ini diambil di Bali, dan dilakoni oleh orang-orang Bali. Bali dipilih karena kekentalan pada tradisi yang sangatlah kuat dan mengakar pada masayarakatnya. Selain itu juga, Kamila Andini sendiri ingin memberikan sesuatu untuk Bali, seperti sebuah persembahan yang menjadi sebuah karya terhadap budaya yang ia kagumi. Oleh karena itu banyak tarian yang diselipkan dalam film ini, dimainkan dengan sangat apik oleh Tantra dan Tantri. Tidak hanya menyutradai film ini, Kamila juga menulis sendiri jalan ceritanya. Butuh waktu 5 tahun lebih untuk menyelesaikan proses penulisannya.

Penghargaan Dan Dukungan

Film ini mendapat dukungan penuh organisasi dari beberapa negara, seperti Hubert Bals Fund, Asia Pacific Screen Awards Children's Film Fund, Cinefondation La Residence, dan Doha Film Institute. Juga tayang perdana di Toronto International Film Festival (TIFF) tahun 2017. Kemudian, diputar juga di festival-festival film lainnya, seperti di Jepang, dan memenangkan penghargaan seperti di Asian Pasific Screen Award untuk kategori film remaja terbaik, Film Terbaik di Tokyo FILMeX 2017, dan Film Terbaik di Festival Film Asia Netpac Jogja. Jadi sangat direkomendasi untuk juga menonton film ini selain sebagai bentuk apresiasi pada film nasional, namun apresiasi juga pada budaya dan kesenian negara kita sendiri.