Sangat jarang sekali ada film dokumenter yang muncul di bioskop. Apalagi yang kali ini adalah film dokumenter dari negara sendiri, mengangkat tema kepulauan Banda yang dahulu menjadi daerah yang sangat diperebutkan oleh bangsa Portugis Spanyol Inggris dan sampai Belanda dikarenakan kekayaan rempah-rempahnya, yaitu pala. Kebayang nggak betapa luar biasanya negara kita ini, se bumi sebesar ini, oleh bangsa eropa ini, jauh-jauh ke Indonesia untuk benar-benar memperebutkan pulau pulau di Banda ini. Dan saat itu pala lebih mahal dibanding emas. Kehadiran film ini semoga membuka mata masyarakatnya sendiri tentang salah satu sejarah negeri ini.

Pada abad 17, pala menjadi primadona, dikarenakan pada saat itu belum ditemukan teknologi pakan kaleng yang bisa bertahan lama, dan pala digunakan terutama untuk mengawetkan makanan, tujuannya agar bisa mensupport makanan untuk para prajurit berperang. Saat itu bahkan bisa dianggap bangsa yang bisa merebut pala, dialah yang akan menguasai dunia. Saat itu pala lebih berharga bahkan dari emas sekalipun, maka dari itulah bangsa besar Portugis Spanyol Inggris sampai Belanda mati-matian ingin merebut kepulauan Banda ini, padahal bahkan di Traktat Breda berisi perjanjian bahwa Inggris menyerahkan Pulau Run, Kepulauan Banda kepada Belanda dan sebagai gantinya mereka mendapatkan Niew Ansterdam yang sekarang lebih dikenal sebagai Manhattan , New York. Keren gak! demi pulau Run yang luasnya cuma 3 km persegi ini bisa jadi harga yang setimpal untuk Manhattan yang sekarang disana berdiri Patung Liberty, Empire State Building, Times Square, Wall Street, Brooklyn Bridge dll. Gokil.

Jay Subiakto & Sheila Timothy

Sheila Timothy sebagai produser merupakan inisiator ide film ini yang lalu pada akhirnya dia memlih bekerja sama dengan Jay Subiakto untuk menjadi sutradara. Lalu yang gw suka banget, disamping ini film pertama Jay menggarap film panjang, dia juga nggak mau lihat referensi film dokumenter yang lain, biarlah dengan ketidak tahuan itu menjadi modal agar hasil jadinya benar-benar fresh, baru, dan enak dilihat. Selanjutnya Ia mengajak Irfan Ramli sebagai penulis skenario yang terlibat dalam beberapa film seperti Cahaya Dari Timur: Beta Maluku, Surat dari Praha, dan Filosofi Kopi 2: Ben & Jody. Seluruh animasi pada film juga dipercayakan Jay kepada SMK Raden Umar Said Kudus atau RUS Animation. Ia mengaku sengaja menaruh para anak muda agar nuansa film dokumenternya lebih kreatif dan masa kini. Narasi film dokumenter itu diisi oleh Reza Rahadian untuk versi bahasa Indonesia, dan Ario Bayu untuk versi bahasa Inggris. Belum puas lagi sampai disana, Jay mengajak lagi 6 orang sinematografer handal salah satunya ada fotografer ternama sekaligus Leica Ambassador Davy Linggar dan Oscar Motuloh.

Davy Linggar

A post shared by Davy Linggar (@davylinggar) on

Proses Syuting

Film ini dirancang selama 1 tahun, dan memakan waktu 1 bulan penuh untuk syuting. Dengan begitu banyak orang yg terlibat, Jay pun memiliki database potongan syuting sampai 16 TERABYTE! Proses editing pun memakan waktu 3 bulan sendiri karena begitu banyaknya shoot yang bisa dipilih Jay. Menurut Jay memang untuk dokumenter ya seperti ini seharusnya dibuat, lakukan riset sekuat mungkin sedetail dan seakurat mungkin, karena disini bukanlah fiktif, ini sejarah, real terjadi, dan harus diabadikan dengan benar.

Tentang Film

Gw benar-benar nggak mau spoiler film ini, lebih baik nonton sendiri, rasakan nuansa menonton yang berbeda. Bagi gw pribadi menonton film ini seperti melihat lukisan bergerak, pengambilan gambarnya yang begitu indah, kuat sekali sisi art yang ada dan disajikan banyak dengan fast motion maupun slow motion berpadu bersama backsound keras, menggebu-gebu dan menggelorakan penonton yang dibawakan oleh Bara Suara, Banda Neira, dan Indah Perkasa. Semua shoot yang sangat indah ini jadi benar-benar membuat gambar-gambar ini berkelas, sangat fresh dan bisa ditandingkan dengan film-film dokumenter sekelas yang ada di NatGeo sekalipun. Di film ini kita akan belajar bagaimana miniatur Indonesia itu ada di Banda. Disini juga cikal bakal munculnya proklamasi kemerdekaan. Lalu ada cerita juga tentang bagaimana cerita kepulauan ini dahulu, sekarang, dan yang akan diharapkan di kemudian hari. Sangat lengkap, dan benar-benar kita akan lebih menghargai sejarah negara kita sendiri melalui film ini.

Karena tidak semua bioskop XXI yang menayangkan film ini, segera cari bioskop terdekat mumpung masih ada beberapa hari lagi sebelum akhirnya hilang dari bioskop.

Saat ini film ini akan diikutsertakan di kompetisi film skala internasional, semoga menang dan semoga nama Indonesia makin harum. Terlebih juga semoga semakin banyak lagi film-film seperti ini yang diangkat, mengenalkan sejarah-sejarah daerah lain kepada dunia dan kita semakin mencintai sejarah negara kita sendiri. Selain itu dengan semakin banyak daerah yang diangkat semoga berbanding lurus dengan perekonomian dari sektor pariwisata yang akan terus terdongkrak ke daerah tersebut. Contoh lihatlah Belitung yang benar-benar terangkat dengan Laskar Pelanginya, atau spot-spot di Jogjakarta yang banyak objeknya terangkat karena AADC 2. Jaya selalu film Indonesia.

Jangan berharap negara lain menghargai bangsa ini, bila kita sendiri gemar memperdaya sesama saudara sebangsa, merusak, dan mencuri kekayaan Ibu Pertiwi.