/ 201705

Review - Critical Eleven

Saya Baru baca bukunya sekitar Maret 2017, berawal dari kedatangan ke Gramedia dan langsung menuju ke rak-rak best seller. Waktu itu memang niat pingin cari buku lagi untuk mengisi waktu 2 jam perjalanan yang akan saya tempuh beberapa hari setelahnya. Pilihan jatuh ke 2 buku antara Dear Nathan, atau Critical Eleven. Waktu itu belum terpikir untuk ngecek ke Goodreads dulu karena agak buru-buru. Membaca berulang kali sinopsis di belakangnya, bolak balik dibaca, lihat covernya, liat setiap detail yang bisa saya lihat, waktu itu saya berpikir Critival Eleven bakal nggak love life banget dibandingkan Dear Nathan, dan buku Critival Eleven pun mendarat di meja kasir.

Yang seharusnya dibaca untuk beberapa hari kedepan, ternyata di hari itu juga, malam hari itu juga, habis dibaca selama kurang lebih 4-5 jam; Saya tenggelam dalam setiap bab yang ditulis disana. Secara penulisan saya suka penulisannya yang sangat-sangat detail mulai dari karakternya, keluarganya, gejolak-gejolak apa yang dirasakan tiap tokoh disana, mengapa ini begini, mengapa dia begitu, semuanya tertulis detail. Dari sisi alur cerita, karena saya lebih cenderung senang genre Thriller atau yang mikir-mikir bikin penasaran endingnya seperti apa, saya agak kurang pas dengan ceritanya. Apalagi lebih banyak ke cerita yang diangkat dan berasal dari perasaan. Tapi kurang menikmati bukan berarti buku ini jelek, nggak. Ceritanya bagus, mungkin sayanya saja yang bukan target tepat sebagai pembacanya, tapi saat itu saya yakin kalau buku ini difilmkan, dan dimainkan oleh pemain kelas atas, pasti akan pecah banget.

Dan terbukti feeling saya terjadi, beberapa bulan setelahnya, Jesica, teman diskusi buku ini, memberitahu bahwa akan difilmkan, dan dimainkan oleh Reza Rahadian dan Adinia Wirasti. Whaat. Oke ini pasti akan keren banget karena saya tahu karakter dua tokoh utama itu memang harus dihidupkan dengan aktor-aktor kelas atas. Lalu saya mencari informasi siapa pemain-pemainnya, ada Widyawati, Slamet Rahardjo, Hamish Daud pencuri Raisa, dan sederet nama lainnya. Wow film ini benar-benar digarap serius, apalagi ditambah soundtracknya dibawakan oleh Isyana. Langsung teringat suksesnya Cek Toko Sebelah dengan GAC & The Overtunes sebagai pengisi soundtracknya. Oh dari sederet nama pemerannya, juga ada Mikha Tambayong. Oke, mana nih kulkaaas.... I'm melting

Setelah Nonton Filmnya

Setelah janjian mau nonton bareng , akhirnya kita bertiga mengambil jam 18.20 di Lotte. Tadinya nyaris telat karena 18.30 baru masuk ke dalam, puji Tuhan paaas banget dimulai dengan 1 kalimat yang memorable banget.

Dalam dunia penerbangan, dikenal istilah Critical Eleven, sebelas menit paling kritis dalam pesawat--tiga menit setelah take off dan delapan menit sebelum landing

Lalu nontonlah kita, selama nonton saya selalu sambil mengingat-ingat lagi setiap chapter yang ada di bukunya. Ada bagian-bagian yang sepertinya improvisasi, ada bagian-bagian yang saya berpikir mana nih 1 kalimat yang menentukan setengah cerita di akhir buku kok nggak sampai-sampai. Ternyata memang durasinya panjang, dan setengah film rata-rata berlokasi ketika masih di New York. Pengambilan spot-spot shootnya juga bagus-bagus, dan super-super salut dengan kualitas acting Reza Rahadian dan Adinia Wirasti, luar biasa bisa menghidupkan karakternya dimana bagi saya yang sudah membaca bukunya tentu sudah mempunyai ekspektasi sangat tinggi terhadap karakter Ale dan Anya, serta di penghujung film gambaran karakter mereka paska membaca bukunya justru semakin kuat terealisasi dari acting mereka berdua.

Buat yang belum baca bukunya, mungkin lebih baik nonton filmnya dulu, lalu baru baca bukunya biar lebih paham kenapa dia begini kenapa dia begitu. Memang sangat dimengerti sekali bahwa adaptasi buku ke film itu nggak akan bisa 100% teradaptasi dikarenakan banyak pengantar setiap cerita di buku itu nggak cukup kalau difilmkan. Namun, secara overall, tetap film ini sangat saya rekomendasikan untuk ditonton, dan bisa jadi salah satu film yang menjadi deretan film terbaik di tahun 2017 ini, serta menjadi bukti juga bahwa perfilman Indonesia ini semakin maju. Kedepan pasti perfilman kita akan semakin menjadi raja di Tanah airnya sendiri.

Sebagai penutup, ditutup sama orang yang paling saya tunggu tapi ternyata cuma keluar 5 menit aja huft , yang tengah ya bukan samping-sampingnya.

Soundtrack

Team Mikha dan Ale