Suatu rencana yang persiapannya pendek biasanya lebih sering tereksekusi dibanding yang persiapannya lama. Bener nggak ? Nggak juga sih, ya persiapan lama itu penting juga kalau memang tripnya jauh dan waktunya panjang. Tapi untuk trip ke Gunung Galunggung ini, rasanya lebih tepat kalau gw sebut sebagai sebuah wisata, mengingat ini bukanlah sebuah trip menuju puncak lewat hutan dengan medan yang berat. Kok wisata ? Iya, semuanya sudah serba ada. Kalau kalian cari tempat ngecamp enak selain Papandayan, nah ini dia tempatnya, Galunggung.

Persiapan

Kami ber 4, gw, Iyus, Grace, dan Andri, kayaknya santai banget persiapannya. Sampai beberapa hari sebelum hari H pun masih belum diketok jelas eh ini kita mau kemana jadinya ya. Bahkan salah satu dari kita baru beli carriernya H-1 haha, luar biasa sih. Kalau gw coba googling informasi mengenai Galunggung ini ya, ga keliatan tuh ini gunung dimana sih puncaknya kok nggak ada foto di puncak ya, ini kok isinya tangga aja, lah terus foto nendanya ini dimana ya. Cukup minim informasi yang bisa kita dapat bahkan hingga H-1 keberangkatan. Kesimpulan singkat yang didapat dari hasil googling, ini cuma wisata nenda aja, kayaknya cukup naik tangga aja terus udah, nenda aja disitu. Nggak pernah ada cerita atau foto tentang orang yang berhasil mencapai puncak gunung Galunggung ini. Menarik kan, namanya kan gunung ya, tapi nggak ada informasi puncak seperti apa.

Ya sudah, daripada kita cari gunung lain lagi yang kita juga bingung mau kemana, tetap aja kita ke Galunggung. Kita rencana berangkat hari Jumat malam, jadi pagi-paginya semua sudah naruh carrier di kantor, ada juga orang 1 ini, diri gw sendiri, yang udah nyicil dari Kamis naruh carrier di kantor biar jumatnya bisa gampang ke kantor nggak bawa barang banyak-banyak. Malam nya jam 10 kita pun menuju ke Kampung Rambutan buat naik bus Budiman menuju Tasikmalaya.

Perjalanan ke Tasikmalaya

Beruntungnya kami dibantu Firman, rekan kerja gw yang rumahnya di Tasik dan kebetulan malam itu dia juga pingin balik kerumahnya. Setelah gw telpon, katanya paling enak naik Budiman karena kursinya dua-dua , lega, dan nggak berhenti-berhenti. Kita ketemu Firman di Kampung Rambutan dan kita semua bisa dapat bus jam 12 malam. Bener, enak banget busnya, sangat pas untuk kaki gw yang panjang ini, bahkan gw bisa tidur pulas dan bangun tau-tau uda jam 5 pagi, thanks berat man buat rekomendasinya. Dan kami tiba sekitar pukul 6 pagi. Harga tiket Jakarta-Tasikmalaya Bus Budiman Eksekutif ini adalah 75 ribu rupiah.

Menuju Singaparna

Dari Pool Budiman, kami naik taksi Budiman ke rumah nya Firman dulu untuk nunggu siangan dikit buat jalan ke Galunggung. Tarif taksi kami rata-rata 50 ribu rupiah per taksi. Dan di rumah Firman kita bisa istirahat bentar, ada bonus workshop kecil dari Firman sendiri mengenai cara penyajian kopi, ada yang di French Press, sama ada yang dibuat espresso. Semua berasal dari yang bentuknya masih biji lalu di grind dengan hasil yang berbeda-beda ada yang halus dan lebih kasar. Lalu semuanya diseduh, buat gw pribadi lebih senang yang espresso. Menurut Firman, untuk tau kualitas kopi enak, harus dicoba rutin selama 5 hari, dari situ barulah dia bisa tau kualitas kopi enak itu seperti apa. Jadi nggak bisa banget tuh cuma minum sekali dua kali lalu bisa bilang ini enak bagi kami yang masih pemula ini.

Kopi yang baik akan selalu menemukan penikmatnya - Ben

Ternyata kami disuguhkan sarapan juga, thank you berat ya man , lalu dari rumah Firman cukup jalan kaki kejalan raya lalu naik angkot ke Pintu Gerbang Cipanas. Nggak lupa kita foto bareng di depan toko bangunannya Firman. Lalu barulah naik angkot 10 ribu rupiah per orang langsung sampai ke pintu gerbangnya.

Masuk ke Area Wisata Galunggung

Pemandian Air Panas

Di pintu gerbang, kami membayar 6.5 ribu per orang. Lalu bisa jalan kaki menuju pemandian air panas dibawah, atau nanjak ke atas menuju Galunggungnya. Berhubung masih pagi jadi kami ke bawah menuju pemandian air panasnya. Ternyata disana selain ada air panas juga ada rute kecil ke air terjun, langsung deh kita kesana juga. Tempatnya ternyata masih asri dan hutannya cukup lebat menuju air terjunnya. Di bawah lagi-lagi kami membayar 10 ribu rupiah.

Bibir Galunggung

Berikutnya kami jalan kaki lagi dari bawah ke atas, kembali ke gerbang utama dulu lalu ada tanjakan ke atas. Perjalannya cukup lama sekitar 1 jaman, sebenarnya bisa saja dari pintu gerbang utama kita naik ojek, tapi karena kita pingin menikmati alamnya, jadi jalan kakilah kami semua. Serunya sempat hujan deras persis sebelum kami sampai ke tempat peristirahatan dan saking derasnya jarak pandang paling cuma 20 meter. Uda kayak lagi di Silent Hill banget. Untung ada warung jadi bisa berteduh sebentar

Lalu kamipun menaiki tangga menuju kawahnya. Nah disini ada 2 jalur tangga untuk menuju kawah Galunggung, kita ambil yang kanan karena jarak tangganya lebih pendek dan cocok untuk naik, jumlahnya ada 620 anak tangga. Cuaca pun cerah dan kami melanjutkan perjalanan. Disini bayar lagi 10 ribu rupiah untuk penanjak yang ingin menginap. Kalau kalian bawa mobil atau motor, disinilah tempat terakhir parkir kendaraan kalian.

Sampai di Atas

Nah pas sampai di akhir anak tangga, rasanya gw lagi liat film 4K di iMax duduk paling depan, gambar yang gw liat guedeeee banget depan mata. Puas banget liat gunung di depan begitu tinggi memenuhi seluruh jarak pandang gw. Keren banget. Mungkin kalau difoto biasa aja tapi waktu ngerasain langsung waktu itu, rasanya gw bisa betah lihat background depan gw itu. Berasa kita ini cuma butiran debu dari semesta yang besar.

Menenda

Kami bangun tenda di sisi kiri kawah, bersama tenda-tenda lainnya. Disana, signal XL nya mantap jiwa. 4G ! Terus berhubung gw uda bawa powerbank 2 dan full semua, uda deh pake seenak jiwa, setel spotify streaming. Eh tau-tau abis batere, dan gw ga bawa kabelnya. Terus ga ada yang punya kabel type C. mamam tuh wkwkwk Ya sudah nasib malam itu gw terputus dari konektifitas, gpp namanya juga masih di alam.

Enaknya disini, semua serba ada, mau cari toilet ada, warung jual makanan ada, bahkan tenda sebelah ini, dari tenda dan isinya semua bisa disewa. Bener-bener dimanjakan banget, modal badan saja sudah bisa menenda disini.

Malam itu kami masak enak banget, spaghetti 1 kantong habis plus bumbu LaFonte cepat saji itu. Belum kenyang juga, kami masak lagi nasi plus sardennya iyus yang oke banget, nikmaaaat banget , sambil berselimutkan udara sekitar yang adem dingin-dingin begitu rasanya tiap sendokan nasi panas dan sarden dan teri medannya Grace itu menambah kenikmatan berkali-kali lipat.

Ketemu Pacet dan Babi Hutan

Seru nih, lagi enak-enak ngadem habis perut kenyang, kita ngobrol-ngobrol di tenda, terus gw liat kaki gw, ternyata ada darah banyak banget ngalir dari kaki gw. Kaget! ternyata kayaknya ada pacet yang masuk. Setelah bersihin kaki dari darah, kita scan ulang satu tenda memastikan nggak ada hewan lain. Ternyata nggak ada apa-apa, asumsi kami mungkin tadi ada satu dua kebawa pas lagi nungguin bangun tenda diluar.

Terus pas maleman dikit sekitar jam 10an, kita lagi ngobrol di depan tenda sama orang lokal, gw iseng pakai senter ke arah tenda, tiba-tiba ada sepasang mata mengikuti arah senter gw pergi, setelah ditembak senter lebih besar sama orang lokal tadi, sesosok babi hutan gede banget, jalan-jalan di belakang tenda. Ternyata disitu jalur babi hutan cari makan, tapi kata orang lokal gpp mereka nggak nyerang, dan jangan taruh makanan diluar tenda. Jadi gw cukup berlama-lama lihat hewat ini dengan jelas muter-muter di belakang tenda, bayangan gw, ini kalau di guling pakai api unggun kecil enak banget pasti ya,hahahaha.

Keesokan hari

Besoknya, kami bangun dengan badan segar, udara nggak sedingin puncak gunung pada umumnya, mau lihat matahari terbit tapi cuaca mendung, jadi kami sambil jalan-jalan dan lalu mulai menyiapkan sarapan pagi diluar tenda.

Turun ke Bawah

Kami packing dan turun kebawah lewat tangga yang satu lagi, kali ini yang jumlahnya 510 buah, dan memang lebih capek turun ternyata, lutut lumayan nih nyut-nyutan. Dibawah kita ketemu Firman , lalu bisa mandi dulu dan sambil nongkrong sarapan. Disini ada yang jual pisang gede banget, per buahnya 5ribu, cocok untuk dibawa pulang sebagai buah tangan, soalnya pas gw coba direbus di warung situ enak banget, kayak lagi makan mangga manisnya, lalu cabai disana juga unik, cabe merahnya bisa dimakan begitu saja.

Kembali dengan Bus

Sampai dibawah, kami kembali menggunakan taksi ke pool Budiman Tasikmalaya, lalu pulang dengan bus Budiman lagi. kami pakai yang super eksekutif 85 ribu rupiah , bedanya jarak antar kursi lebih lebar, dan rasanya perjalanan ini lebih tepatnya disebut sebagai piknik, bukan naik gunung yang penuh tantangan :D Thank you semuanya yang naik bareng, dan Firman buat semua keramahannya.