/ 201805

Pendakian Gunung Prau

Pendakian pertama gw tahun ini ialah ke puncak Prau. Senang. Setelah menunggu cuaca yang masih sering hujan akhirnya baru bulan Mei pendakian ini terlaksana. Rasanya baru kemarin perjalanan dimulai dengan bus dari Jakarta, tiba di Wonosobo lanjut bus kecil ke basecamp Dieng, makan pagi dengan nasi dan sop ayam hangat di tengah udara Dieng yang dingin. Setelah packing, kami berempat dengan carriernya masing-masing mulai pelan-pelan berjalan menuju puncak Prau.

Persiapan Matang

Mari mundur lagi ke tahap persiapan. Yang gw suka sekali dari tahap persiapan kali ini ialah sejak 2 minggu sebelum pendakian kami ber empat sering diskusi ringan tentang apa saja yang perlu disiapkan, bikin grup Line, sampai bareng-bareng ke Indofest buat cari perlengkapan. Pendakian kali ini anggotanya ada gw sendiri, Desi, Jesica, dan Indra. Mulai makin dekat ke hari H kami mulai membuat daftar barang-barang yang dibawa, yaitu :

Sudah di list seperti ini pun, kami masih ada ngumpul lagi bareng buat ngomongin nanti mau makan apa, bawa cemilan apa saja, sampai barengan beli online tiket bus buat berangkat. Waktu itu kami naik Pahala Kencana 120K, beli lewat online di web resminya, gampang banget. Hari itu ditutup dengan makan bareng sekaligus menandakan hari terakhir ketemu sebelum ketemu lagi di hari H.

Keberangkatan

Kami berangkat hari Jumat, menurut tiket, bus akan berangkat jam 18.30. Di hari itu gw keluar kantor lebih cepat sekitar jam 4, janjian di Gelael Pancoran. Jam 16.30 semua sudah mulai kumpul, lagi enak-enak makan di KFC, tiba-tiba ditelpon orang bus kalau bus akan jalan jam 18.00 dan saat itu jam sudah menunjuk ke pukul 17.00. Sontak panik! Mau naik gojek masing-masing biar cepet ternyata nggak dapat-dapat, akhirnya nyegat taksi, meluncur dan fiuh, pas banget jam 18.00 sampai, masuk bus, dan buspun berangkat. Tantangan pertama mulus.

Bus Pahala Kencana yang kami naiki ini berjalan cepat, tapi tetap masih kategori cukup aman. Paling menyenangkan saat sudah masuk ke Cipali, satu demi satu mobil di depan terlewati. Dinginnya AC bus tetap tidak menghalangi kami yang tetap tidur dalam balutan jaket kami masing-masing. Sekitar jam 23.00 bus berhenti, dan seluruh penumpang dapat makan malam. Akhirnya bisa ngobrol bareng lagi dikarenakan posisi kursi di bus kami yang terpisah-pisah. Kembali ke bus dengan perut kenyang benar-benar menghantarkan kami semua ke dunia mimpi. Pukul 5.00 bus tiba di Terminal bus Mendolo, Wonosobo.

Turun dari bus, kami semua dikerubungi orang-orang yang menawarkan jasa ojek ke kota, katanya lebih cepat. Berhubung kami tidak terburu-buru, jadi kami menunggu bus kecil datang dengan tujuan Patak Banteng dan Basecamp Dieng. Sambil menunggu, gw sempat berkenalan dengan pendaki lain yang dari Pancoran, lalu ada juga dari Depok, semuanya mengambil jalur Patak Banteng. Berhubung misi kali ini "slow gapapa yang penting selamat", memang dari awal kami akan mengambil jalur melalui Basecamp Dieng. Jam 6 bus kami datang, dan setelah perjalanan 1 jam kami tiba di Basecamp Dieng. Sebagai informasi, baik yang mau mengambil jalur Patak Banteng atau Basecamp Dieng sama-sama bisa menggunakan bus yang sudah menunggu di terminal ini. Biaya per orang sebesar 20k dari Terminal Mendolo - Patak Bateng / Basecamp Dieng.

Basecamp Dieng

Sampai di Basecamp Dieng sudah terasa sekali dingin yang terbawa dari angin yang berhembus. Untung gw ingat pernah makan di rumah makan Bu Jono saat terakhir kali menanjak Prau, jadi kami singgah disana, langsung pesan makan dulu karena perut kami kompak lapar semua. Posisi rumah makan ini persis di depan tulisan Welcome to Dieng, cari saja yang ada warna pink, pasti kalian tidak akan luput saat melihatnya. Setelah perut terisi, kami ijin pada owner untuk menggunakan space di atas, kami mau repacking lagi. Strategi saat itu, tenda akan masuk ke carrier gw, dan sleeping bag gw yang makan tempat ini akan ditaruh ke tempat yang lain. Barang-barang masakpun jg gw oper ke yang lain, praktis carrier gw isinya tenda, 2 botol 1.5L, dan perlengkapan pribadi. Sebelum berangkat, mas Dwi,salah satu owner rumah makan itu, berbaik hati menggambarkan peta diatas kertas kosong lengkap dengan estimasi perjalanannya. Pukul 10 pendakian dimulai. Sebelum mendaki tidak lupa berdoa dan foto bareng dulu.

Tuk tuk tuk

Cuaca hari itu cerah sekali, mentari bersemangat sekali mengantarkan langkah kaki kami yang pelan-pelan mulai jalan. 10 menit dari basecamp dan kami tiba di pos pendaftaran. Untuk per orangnya dikenakan 10k, disana kami diberi lagi 1 peta kecil sebagai pegangan untuk mendaki.

Pos ke Pos

Selesai dengan proses registrasi kamipun melanjutkan perjalanan. Benar kata orang, kalau mau lebih menikmati perjalanan dengan medan yang landai, penanjakan jalur basecamp Dieng sangatlah direkomendasi. Di awal pendakian kami melewati kebun penduduk sekitar di kiri dan kanan, 15 menit kemudian mulailah bayang-bayang pepohonan pinus menutupi kami, teduh, melindungi kami dari panasnya matahari diatas sana. Saat berjalan, ternyata kami tidak melihat telah melewati pos 1, gw sudah agak khawatir karena normalnya perjalanan ke pos 1 itu 30 menit, ini sudah 2.5 jam berjalan dan belum sampai juga. Tiba-tiba, kami sampai di pos 2 haha. Bahagia yang sangat sederhana.

Pos 2 ke Puncak

Di Pos 2 ini kami istirahat agak lama, semua duduk melingkar lalu buka nasi goreng yang sudah dibawa dari bawah. Walaupun hanya nasi goreng, tapi terasa cukup untuk mengembalikan stamina kami, bekal untuk melanjutkan ke pos-pos berikutnya. Perjalanan menuju pos 3 kami tempuh dalam 2 jam, melewati yang orang sebut akar cinta, dataran landai dengan akar-akar besar keluar dari tanah membuat pendakian seperti menaiki tangga. Setelah itu akan dijumpai pertigaan dimana kekiri akan melewati pemancar, namun jalur itu sudah ditutup sehingga semua akan mengambil arah kanan. Pos 3 hanyalah berupa tanda kecil tegak berdiri di atas tanah. Entah maksudnya apa, ada jalan yang dari pemancar ditutup juga dan ditaruh boneka disana, seperti mengisyaratkan untuk jangan coba memasuki area sana.

Kira-kira setengah jam setelah pos 3, bukit-bukit mulai menunjukan diri dan menyambut kami semua. Kota Dieng terlihat jelas dari atas sana. 5 jam perjalanan berakhir dengan kami memilih mendirikan tenda agak di sisi lembah salah satu bukit.

Sunset

Tenda telah berdiri tegak, matras telah digelar didalam, carrier dan semua barang sudah didalam, kami pun menaiki bukit lagi untuk mencari sunset. Cuaca masih cerah, tidak ada kabut. Walaupun matahari tenggelam tertutup awan namun kami semua menikmati detik-detik itu, saat-saat perlahan semua menguning dibalik lautan awan tepat di depan mata. Udara boleh dingin, tapi suasana saat itu hangat, semua menikmati sambil berfoto-foto mengabadikan momentum itu.

Malam Super Dingin

Badan sudah lelah, sangat lelah, dan setelah sunset kami semua kembali ke tenda, mengeluarkan sleeping bag kami masing-masing. Udara diluar sangat dingin, sambil berselimut sleeping bag kami masak air panas untuk minum. Air sudah panaspun saat dituang ke gelas terasa sangat cepat untuk kembali dingin lagi. Jadi kami buat lagi air hangat ditambah susu coklat hangat. Nasi goreng sudah dihabiskan sebelum acara sunset namun malam itu sepertinya air hangat sudah cukup dan badan seperti berat kalau harus masak makanan yang kami bawa, dan kamipun semua tidur. Dalam tenda, dalam balutan heatech, lengan panjang turtleneck, jaket, dan sleeping bag pun gw masih terasa dingin. Percaya banget kalau itu benar 4 derajat Celcius.

Milkyway 10pm

Jam 10 malam gw terbangun, ambil tripod, gopro, kamera, dan berjalan keluar tenda. Malam itu menurut kalender fase bulan adalah fase bulan tinggal 10% menuju bulan mati, saat yang sudah nyaris sempurna untuk dapat mengambil milkyway. Diluarpun gw tertegun, bintang begitu banyak, teringat lagi selama penanjakan sebelumnya gw selalu dapat pas bulan terang, namun kali ini bulan tak terlihat dan jutaan bintang menunjukan dirinya menyerahkan diri agar bisa gw abadikan. Desi ikut keluar tenda tertarik dengan cara gw mengambil foto, kebetulan ada 1 teknik yang pingin gw coba dan jadilah foto ini.


X-T20
ƒ/2.8 | 1s | 18.8mm | ISO10000


X-T20
ƒ/2.8 | 3s | 18.8mm | ISO8000

Sayang saat itu gw belum punya lensa fix yang bisa diatur fokus nya ke infinite jadi objek depannya masih banyak yg blur, dari sekian banyak pengambilan foto yang cukup jadi cuma dua diatas haha.

Lalu Desi masuk kembali ke tenda dan gw tetap diluar mengabadikan apa yang gw lihat.

ƒ/2.8 | 2.5s | 18mm| ISO10000


ƒ/3.2 | 5s | 18mm | ISO5000

Milkyway 4am

Setelah kembali tidur, jam 4 pagi terbangun lagi dan gw langsung keluar lagi bawa semua perlengkapan dan kembali mengambil foto, kali ini lebih banyak lagi bintang yang keluar. Gugusan bintang lebih terlihat dan awan-awan putih pembentuk milkyway lebih mudah tertangkap.


ƒ/3.2 | 8s | 18mm | ISO5000


ƒ/2.8 | 10s | 18.8mm | ISO5000


ƒ/3.2 | 10s | 18mm | ISO5000

Pagi Hari

Pagi kami bangun dengan rasa lapar yang lumayan besar, sehingga kami putuskan memasak dulu spaghetti yang dibawa. Selesai makan, matahari dengan cepat sudah mulai keluar sehingga kami agak telat untuk naik ke bukit melihat detik-detik terbitnya mentari. Nggak apa-apa, gw pribadi selalu senang lihat matahari di tempat terbuka seperti ini, gunung Sindhoro terlihat di seberang bukit sana.







View dari Puncak Prau

Dari atas puncak, hamparan bukit dengan rerumputannya menyampaikan salam selamat pagi kepada seluruh pendaki. Gugusan bukit membentang dengan latar belakang gunung Sindhoro, gunung Sikunir, gunung Selamet, dan gunung-gunung lain yang terlihat kecil di belakang sana.

Personil Mengs





Berasa 17an

Lagi seru-seru foto ada group sebelah yang bawa bendera Indonesia, nggak butuh waktu lama buat ijin pinjam, dan lanjut sesi foto-fotonya :D Terima kasih negeriku untuk alam yang begitu indah ini.




Waktunya Turun

Kembali lagi ke tenda, terus, lapar lagi haha. Akhirnya pada masak spaghetti lagi. FYI masak spaghetti memang terbukti paling gampang, tinggal rebus air, rebut spaghetti, campur dengan bumbu jadi, makan. Indomie nggak rekomendasi ya, karena sifatnya yang menyerap cairan dalam badan kita yang bisa buat makin dehidrasi. Perut kenyang, lalu packing semua, tidak lupa foto depan tenda, dan perjalanan turun dimulai.


Sampai di Warung Bu Jono

2 Jam perjalanan turun dari puncak sampai ke warung Bu Jono. Luar biasa cepat dibanding perjalanan naik yang sampai 5 jam. Sesampai disana disambut kembali oleh keramahan mas Dwi dan Ibu Jononya. Hal pertama yang kami pesan adalah minuman. Dilanjutkan dengan makan kenyang lagi dan naik lagi ke atas untuk packing. Sambil packing satu persatu mandi, walaupun jam sudah jam 11 siang tapi air untuk mandinya, brrr....dingin luar biasa. Saking dinginnya, di tiap kali gebyur kepala jadi mati rasa, tapi super seger. Wajib coba ya kalau kesana, wajib mandi.

Perjalanan dari basecamp memakan waktu 1 jam dengan bus kecil sampai di Wonosobo, lalu kami melanjutkan pulang ke Jakarta.

Thank youu Indra Jesica Desi buat trip pertama kita ini yang diluar Jakarta. Indra buat bantuan foto-fotonya, yang selalu fit mau saat naik atau turun nggak pernah terlihat lelah, dan yang selalu ikut memantau perjalanan naik turun ini selalu aman. Jeje, buat bercandaan selama perjalanan, gw tau badan lu uda super capek tapi tetep nggak pernah lelah cerita ini itu. Buat Desi, terutama untuk perawatan intensif gw dan 1 personil yang lagi masuk angin, minyak kayu putih lu untung dibawa, penyelamat disaat dingin-dingin seperi itu. Moga-moga kita semua bisa ketemu lagi di trip berikutnya.

It is not the mountain we conquer but ourselves.