Tulisan ini adalah lanjutan dari tulisan ini. Setelah penanjakan pertama yang berujung gagal muncak, gw jadi penasaran banget dan makin semangat buat kesana lagi, menuntaskan yang belum tuntas. Beberapa hari setelahnya gw cerita ke group kecil di kantor dimana kita juga ada rencana naik gunung bareng tapi memang belum diputuskan mau kenana, ya gw usulkan ke Garut ke Gn. Guntur mau gak ? 1 suara semua, yak!

Personil yang menyetujui usulan ini ada 3 orang yaitu gw, Grace, dan Andri. Kita sudah melakukan persiapan sejak 2 minggu sebelum hari H. Dari seluruh persiapan pendakian sepertinya gw sudah ada semua, ada tenda, dan perlengkapan pribadi, yang belum punya itu nesting dan cooking set. Jadinya, gw pun beli dari Tokopedia :")

Mendekati hari H kami terus intens saling mengecek perlengkapan. Rencananya kami bertiga akan pakai tenda kapasitas 4 orang. Perbekalan juga lengkap ada spaghetti dan beras beserta teri medan dan abon. Lalu sempat cek lemari di rumah ada apa, eh ada kurma, ada coki coki sisa terakhir naik, sikaat. Semua masuk ke carrier.

Pas hari H-1, ternyata salah satu teman gw berhalangan ikut karena sakit dan fix tinggal berdua yaitu gw dan Grace. Malamnya gw chat Grace gimana nih jadi nggak, diluar ekspektasi gw ternyata dia masi semangat buat naik, ini memang gunung kedua dia setelah gunung pertamanya berhasil muncak di Slamet beberapa minggu sebelumnya juga, masih semangat pasti nih ya pingin muncak ke gunung lain lagi. Berhubung gw juga masih super penasaran yaa akhirnya kita putuskan tetap pergi. Lalu gw kembali packing, fix nih artinya carrier gw nanti isinya ada perlengkapan pribadi, tenda, nesting, cooking set, gas, belum ditambah nanti air minum 2.5L kali 2 itu semua bakal gw bawa di carrier gw sendiri. Wow. Kepikiran mau bawa tripod, tapi kayaknya mustahil jadi gw tinggal. Malam itu tidur cepat sekitar jam 10 lalu bangun jam 5, sarapan mandi dan langsung Grab ke kantor. Dateng pagi-pagi banget karena biar ga rame aja di kantor nenteng-nenteng carrier. Sampai kantor jam setengah 7 dan kosonggg plong bisa naruh carrier dengan tenang. Iyalah ya haha.

Hari itu hari Jumat dan kita rencananya akan naik bus Primajasa sabtu jam 2. Kerjaan di hari itu lancar-lancar aja dan malamnya gw coba telpon Primajasa, ternyata untuk jurusan ke Garut itu bisa naik dari Cawang UKI tapi mulai jam 4 pagi dan tiap setengah jam bus akan jalan. Ya sudah karena menurut gw masih cukup jadi gw bilang sama Grace kita berangkat subuh aja jadi bisa istirahat di kantor. Yap jadi kita tidur dulu, gw nyenyak banget tidur di r.training ada bantal dan bawahnya juga empuk. Bangun seger, jam 4 meluncurlah kita ke Cawang UKI. Jam 5 buspun berangkat.

Enaknya naik Primajasa dibanding Kharunia Bakti yang gw naiki di penanjakan sebelumnya itu adalah nggak berhenti-berhenti, jadi cepet banget sampai Garut sekitar pukul 9 tapi karena macet jadi kita bisa turun sekitar jam 10an. Tempat kita turun itu namanya Gobing, disinilah para pendaki biasa turun kalau mereka mau naik ke gn.Guntur. Dari sini bisa naik angkot yang ke basecamp tapi saat itu angkotnya lagi nggak ada jadi kita naik ojek 30ribu per orang sampai ke basecamp.

Nah sebelumnya, pas di bus, gw kan udah kenal sama abah pemilik salah satu rumah di Basecamp di penanjakan sebelumnya, jadi gw coba Whatsapp beliau kalau gw mau kesana lagi. Ternyata dijawab dan dia senang sekali menyambut kita, dirumahnya kita langsung dikasih tempat di teras dalam rumahnya,  padahal kalau yang lain biasanya istirahatnya di pendopo luar. Disana gw dan Grace bisa packing lagi lalu makan siang dulu leyeh-leyeh dulu karena memang hari masih siang. Disana ada anak kecilnya namanya Kinan, cantik dan lucu, kita ngobrol-ngobrol kecil sambil nunggu agak mendung, lalu sekitar jam 1 barulah kita pamit sama abah, kita akan mulai penanjakannya.

Dari Basecamp ke Pos 3

Kita memulai penanjakan sekitar pukul 2 siang. Rencananya tetap sama, kita akan mendirikan tenda di pos 3. Memulai pendakian energi masih banyak jadi cukup cepat juga sampai ke pos 1 untuk registrasi, kertas formulir yang dikasih saat pendaftaran di basecamp akan di cap. Dan per orang dikenakan biaya IDR 30 ribu.

Setelah pos 1 mulailah akan dijumpai tanjakan bebatuan besar. Medan seperti ini masih paling pas pakai sendal gunung, namun saat itu kami pakai sepatu gunung semua. Energi cukup terkuras namun karena gw tipikalnya suka ngikutin yang didepan dan gw sering kasih Grace yang didepan aja biar kalau ada apa apa gw bisa pantau terus jadi ya kalau yg didepan pingin istirahat baru gw juga istirahat. Eh diluar perkiraan, Grace kuat banget, kita baru istirahat bener itu pas sudah kelihatan bendera tempat pos 3. Itupun berhenti karena hujan dan kita harus pasang jaket ponco dll. Akhirnya sampailah di pos 3 dalam waktu 2 jam 21 menit.

Di pos 3 ini gw daftar ulang dan dapat posisi mendirikan tenda agak dibawah bendera dengan view kota Garut. Kamipun mendidikan tenda dibawah gerimis yang terus turun.
Setelah tenda selesai dibangun, mulai unpack barang-barang yang perlu dikeluarkan dan mulai masak karena sama-sama lapar. Waktu itu jam sudah menunjukkan pukul 6 sore. Ada opsi masak nasi atau spaghetti namun karena kita mikirnya nasi buat besok pagi aja deh kan capek tuh turun gunung kalau habis itu masak nasi plus abon plus teri medan pasti enak banget. Jadilah kita masak spaghetti.

Sudah kenyang, kita mulai packing barang lagi karena rencananya besok pagi jam 2.30 weker nyala dan kita akan titip 1 carrier ke penitipan dan bawa 1 carrier yang isinya cuma minum dan snack ke puncak. Enaknya di pos 3 signal XL kenceng banget, bisa sambil pasang spotify live streaming pun masih kuat, kita pasang lalu tenda berubah jadi tempat karaokean bareng, gw di sisi kiri, Grace di sisi kanan haha. Sampai akhirnya ketiduran.

Penanjakan ke Puncak

Jam 2.30 weker sukses bunyi dan langsung kilat barang dikeluarkan dari tenda yang isinya cuma nesting dan alat masak. Lalu tenda gw gembok, titip carrier dan jam 3 pun kita mulai nanjak. Perbekalan saat itu ada kurma, anggur, air putih, coki-coki, madu madurasa, roti sobek, lalu ada juga counterpain. Lengkap!

Nah ini nih track yang dimana gw gagal muncak. Kali ini kita sudah sama-sama pakai tracking poll masing-masing dua. Lalu pakai headlamp. Jadi jalanpun terang benderang terlihat jelas bahwa medan ini dominan diisi batu-batu kecil yang cukup dalam yang kalau tiap diinjak pasti kaki tenggelem dan agak terseret mundur. Belajar dari pengalaman kemarin kali ini kalau sudah pakai sepatu gunung tuh udah paling bener dan paling pas untuk mendaki medan seperti ini. Nggak ada lagi ceritanya batu nyelip di sela-sela sepatu sendal. Dan yang juga pentingnya headlamp kita bisa lihat jelas mana jalur batu mana jalur yang banyak rumput.

Tips dan trik paling oke untuk naik di medan seperti ini adalah selalu jalan dari pinggir karena di pinggir ada banyak banget track rumput yang pasti dikeliling tanah solid yang benar-benar memudahkan penanjakan. Pokoknya kalau bener-bener cuma lewat jalur batu fix gw rasa bakal super lama banget dan resiko gagal muncak sangat tinggi karena terkuras di track batu-batu kecil itu.

Tanpa basa basi tanpa banyak istirahat kita sampai di puncak 1 jam 6.30 pagi, matahari mulai keluar dan terlihat jelas awan ada di bawah kita semua. Rasanya ya, melihat awan setebal itu makin membuat gw pribadi bersyukur dan mengucapkan terima kasih ke Sang Pencipta atas alam Indonesia ini yang begitu indah. Saat itu lagi bulan purnama jadi bisa dilihat jelas di seberang matahari terbit ada bulan penuh yang terlihat. Keren banget.

Nggak puas di puncak ini, kita lanjut lagi naik ke puncak 2. Perjalanan sekitar 1 jam dan sampai di puncak 2. Ternyata ya sesampai disana ada lagi puncak lain yang tidak akan terlihat kalau kita cuma berhenti di puncak 1. Seperti menemukan harta karun dan rasanya pingin banget lanjut ke puncak 3 sana yang gw yakin sesampai disana pasti ada harta tersembunyi lain yang nggak keliatan tapi mengingat waktu nggak mungkin cukup jadi memang nggak akan kesana.

Tanpa gw duga juga ternyata dari puncak 2 bisa terlihat jelas puncak gunung Cikuray. Puncak yang memberikan memori khusus sekali mengingat medan begitu sulit dan drama yang ada disana haha peace ya di. Lalu juga terlihat puncak gunung lain yang gw nggak tau namanya apa. Menurut gw siapapun yang mau kesini mending sekalian aja minimal sampai ke puncak 2. Ga bakal nyesel lihat view dari sana

Kita turun jam 8 pagi dan cepet banget turun lagi ke puncak 1. Kalau orang-orang lewat jalur kiri yg banyak batu,  kita lewat jalur kanan yang banyak rumput. Memang keliatan agak muter tapi feel nya beda aja dan seru bisa lewat padang rumput kecil. Nah turun dari puncak 1 nya ini niiih seru banget. Tracknya isinya batu aja. Sepertinya dahulu kala ini jalur lava turun karena bentuknya kayak kita ada di tengah jalur sungai yang sudah kering dan isinya batu kecil semua.

Tips paling tokcer buat turun di medan seperti ini nih cuma satu, lari aja! Beneran, soalnya kalau jalan kaki ada waktu tenggang saat kaki mendarat dan diangkat lagi itu malah bikin kaki tenggelem dan butuh energi lebih banyak buat angkat kaki lagi. Jadi lari aja deh sambil ngesot lompat kanan kiri jadi waktu telapak kaki bertemu batu jadi sempit sekali. Kita yang tadi naiknya 4 jam, turunnya cuma 1 jam sampai di tenda lagi. Luar biasa. Gw aja kaget lah udah sampai tempat tenda lagi aja.

Pos 3 Menuju Basecamp

Sesampai di tenda taruh barang lalu gw ambil carrier dan waktu itu kita discuss mau masak nggak nih. Berhubung sudah makan roti sobek plus anggur di puncak 2 tadi jadinya kita putuskan langsung pulang aja. Lalu kita cepet banget packing dan turun.

Ini nih yg gw salut sama temen penanjakan gw ini , Grace, kayak nggak ada kendor tenaganya, turun juga cepet banget bahkan gw yang kadang minta waktu istirahat bentar, apalagi pas sudah lewat pos 1 rasanya bener-bener seluruh badan apalagi kaki nih bergerak auto pilot. Nggak ada lagi energi tapi tetep bisa turun walau lebih pelan. Tiba-tiba hujan rintik mulai turun. Nah kan! Dan entah kenapa karena hujan mulai makin deres justru kita terpacu luar biasa langsung jalan cepet banget, nyeri di ujung-ujung kaki gw kayaknya udah mati rasa. Dan cepeeet banget tiba-tiba sampai di Basecamp Abah Guntur lagi.

Disitu bener-bener yaa rasanya lihat tiker terus ada dispenser air terus ada sachet nutrisari terus ada rice cooker isi nasi panas ada lauk sop semua rasanya super indah banget. Gw langsung pesen nutrisari 2 gelas. Ambil piring daaan makan! Nggak lupa campur teri medan biar cepet habis. Wah rasa senengnya maksimal. Akhirnya nggak ada lagi jalan kaki bawa carrier yang isinya banyak kayak gitu karena gw tau abis ini tinggal naik ojek terus naik bus.

Di rumah Abah habis kenyang makan, gw pun mandi. Air pun dialirkan langsung dari mata air masuk ke ember. Super super super seger banget. Energi seperti kembali lagi dan tiba waktunya kita pun pamit kepada Abah Guntur untuk semua keramahannya, lalu kita naik ojek 30 ribu per orang ke Terminal Guntur lalu pulang dengan bus Primajasa. Selesai :)