Minggu kemarin persis ini nih, tepatnya 9 April, Jasa Marga sudah resmi me-non-aktif-kan gerbang tol Karang Tengah. Yes, gerbang yang sepertinya selalu membuat kemacetan lebih dari 5km dijam-jam pergi dan pulang kantor ini akhirnya tidak lagi beroperasi.

Sebagai pengantar, bagi saya pribadi dan teman-teman yang tinggal di dekat gerbang tol Greenlake, Alam Sutera, dan apalagi yang di Gading Serpong memang melihat Gerbang Tol Karang Tengah ini sebagai masalah lama. Kita sudah bayar tol yang notabane nya adalah jalan bebas hambatan, tapi justru belum bayar saja sudah antri panjang sekali. Setelah bayar apakah tidak macet lagi ? Tentu tidak, apabila ke arah Tomang, kemacetan masih bermuara di perempatan Tomang. Apalagi kalau pagi hari, sudah biasa macet panjang, dan ditambah lagi bus-bus TransJakarta yang selalu menyerobot di ujung jalan yang ada persimpangannya ke kiri ke arah tol dalam kota, dan kanan ke Tomang. Bus-bus ini pasti akan motong dengan tidak tau aturan, dan memaksa semua mobil disamping kanan yang mengantri dengan benar menjadi selalu terjepit bahkan sering sangat mepet hingga beda berapa cm saja. Terlalu.

Sekarang Gerbang Tol Karang Tengah ini sudah dibuka, dan bagaimana hasilnya ? Justru sekarang kemacetan menjadi tersebar yang tadinya menumpuk di Karang Tengah menjadi terpecah-pecah ke pintu keluar Greenlake, Alam Sutera, Gading Serpong, dan Karawaci. Kita mulai dari arah Tomang dulu ya, memang dari Tomang sudah tidak begitu macet, tapi ketika gw mau keluar di GreenLake, kali ini antriannya memakan waktu lebih dari 2 jam. Gw juga tanya teman yg keluar di Alam Sutera dan Gading Serpong juga sama, minimal 2 jam. Kita menyimpulkan melepas Gerbang Tol Karang Tengah justru semakin membuat parah jam tempuh perjalanan menuju rumah. Solusi semu yang membuat masalah baru yang lebih parah.

Volume Besar di Pipa Kecil

Sumber masalah baru ini dikarenakan di gerbang-gerbang tol keluaran itu cuma dibuat 2 - 3 gerbang saja, dimana volume orang-orang yang keluar itu sangat sangat banyak. Ibaratnya, yang tadinya air sungai besar di tampung di waduk Karang Tengah yang volume tampung nya besar, dibuka dan di alirkan ke pipa pipa dengan diameter kecil namun dengan volume yang juga besar. Akhirnya, per 10 menit rasanya lebih efektif Gerbang Tol Karang bekerja mengurai macet melayani pembayaran dengan begitu banyak gerbang dibanding dengan gerbang-gerbang kecil di pintu-pintu keluar itu.

Gw pribadi mengapresiasi maksud baik melepas GT Karang Tengah, tapi alangkah lebih baik lagi kalau jumlah gate di GT Greenlake dan GT lainnya itu diperbanyak, bisa memakai system Gate deret sampai 10 Gate sehingga per 5 menit bisa melayani pembayaran dengan lebih maksimal. Karena kalau tidak ditambah, tentu solusi ini akan percuma karena antrian semakin banyak, memang cuma 2 baris di kiri yang mengantri ingin keluar, tapi tipikal orang sini kan suka nyerobot, akhirnya macetnya juga merembet ke semua jalur, dan justru lebih panjang. Kalau kita mau ke Cikupa berarti harus melewati kemacetan orang mau keluar ke Greenlake, Alam Sutera (yang paling parah), Gading Serpong, dan Karawaci.

Harga Naik 200%

Ini catatan pribadi gw, biasa gw masuk tol dari Tomang dan cukup membayar 2500 kalau mau keluar di Meruya. Sekarang, dengan dilepasnya GT Karang Tengah, harga yang harus gw bayar di Meruya menjadi 7.500 rupiah. Hebat, melepas Gerbang Tol Karang Tengah dan harus mengorbankan orang-orang pengguna tol dengan menaikkan 200% di jalur dengan jarak yang sama. Padahal bagi yang keluar di Meruya biasanya tidak membayar Gerbang Tol Karang Tengah kan karena memang lokasinya sebelum gerbang itu, tapi sekarang, harga naik setinggi itu. Nggak masuk akal.

Akhir kata, dengan dinonaktifkan Gerbang Tol Karang Tengah ini cuma buat biang masalah baru saja.