Ini adalah cerita mengenai 3 manusia dengan background IT yang mencoba 'sedikit' mencari kerjaan lain selain bergumul di depan laptop di hari-hari kami bekerja. Tujuan akhir yang kami patok ialah mencapai tempat yang biasa disebut atap Sumatera, titik tertinggi yang pernah ada di seluruh daratan Pulau Sumatera, yaitu puncak Gunung Kerinci, yang dilakukan di hari yang sangat-sangat spesial yaitu hari kemerdekaan Indonesia yang ke 73. DIRGAHAYU REPUBLIK INDONESIA.

15 Agustus 2018

Pagi ini gw begitu semangat, bangun pukul 4.30 AM, mandi, dan melakukan packing terakhir. Lalu cepat-cepat makan pagi, dan pergi menuju Bandara Soekarno Hatta. 7.30 AM Pesawat Citilink QG-952 terbang tepat waktu menuju Padang. Perjalanan menuju Padang ditempuh dalam 1 jam 52 menit. Setiba disana, gw mengambil carrier yang gw taruh di bagasi, lalu keluar, dan akhirnya bertemu dengan 2 teman pendakian kali ini, Cornel dan Li Bin.

Cornel


Cornel ini teman kantor yang juga merupakan teman naik gunung Rinjani. Bisa dibilang penanjakan ini berawal dari dahulu kala setelah turun Rinjani dia sempat terceletuk ide untuk naik Kerinci, setelah gw dan dia ngobrol bareng lagi tahun lalu, akhirnya perjalanan ini direncanakan bersama dengan begitu baik, dan jadilah kami bertemu disini menjalankan apakah yang sudah direncanakan begitu lama.

Li Bin


Teman Cornel, seorang iOS Developer, warga negara Malaysia yang nggak pernah ke Indonesia, nggak pernah naik gunung, tapi mau diajak Cornel buat datang ke Indonesia untuk langsung nanjak Kerinci. Gw belum pernah ketemu dia sebelumnya, selama persiapan kami cuma ngobrol bareng di group whatsapp. Setelah ketemu pertama kali, feeling gw langsung yakin pasti dia kuat sampai puncak. Anak basket, staminanya pasti lebih panjang dari gw.

Perjalanan ke Kerinci - Makan Siang di Solok

Jam 10 kami dijemput dan langsung menuju Kerinci. Perjalanan kira-kira memakan waktu 7 jam, kami pergi dengan menggunakan mobil Avanza, supir ini membawa 5 penumpang, kami bertiga dan 1 group lagi berisi 2 orang yang akan juga nanjak pas 17an nanti. Selama perjalanan gw duduk di belakang bareng Li Bin dan kami ngobrol banyak sekali sepanjang jalan. Li Bin sangat termotivasi waktu gw cerita bagaimana gw, Cornel, dan yang lain menyelesaikan pendakian Rinjani 2 tahun silam.

Perjalanan terhenti sebentar di rumah makan daerah Solok. Yap, waktunya makan siang. Inilah restoran Padang pertama kali yang kami santap. Saat itu kami pesan

Belut cabai hijau

Dendeng Padang

Ayam Cabai Hijau

Teh Telor

Kami makan sharing, Gw paling suka belut cabai hijau sama dendengnya. Karena enak banget ya, atau karena gw lapar, gw sampai minta tambah nasi lagi. Li Bin juga nggak berhenti cerita membedah tiap rasa yang pertama kali dia baru coba ini. Intinya dia suka, apalagi teh telurnya, setelah dia coba aduk teh, telur, dan tambahkan jeruk nipis, wah ternyata dia suka banget, gw meleng dikit tau-tau uda diabisin dia semua segelas.

Lanjut Ke Kerinci

Perjalanan berlanjut, gw bolak-balik melek-ngantuk-tidur-melek-ngantuk-tidur tapi nggak sampai-sampai. Sepanjang jalan supirnya setel lagu pop Indonesia tahun 90an, kacau sih bikin nyanyi muluk pas fase melek. Selama perjalanan menuju Kerinci ini kami disuguhkan pemandangan yang sangat alami, gw bisa lihat pohon-pohon lebat sepanjang jalan, danau kembar yang membentang luas dengan rumah-rumah di sekitar danau, hingga setelah sore hari, mulailah tampak sang Kerinci menunjukkan dirinya, begitu anggun, begitu besar, begitu tinggi. Gw bicara dalam hati, inilah gunung yang besok akan kami daki, 2 hari lagi, kami bertiga akan sampai disana, puncak atas sana yang dikenal sebagai atap Sumatera, disanalah kami akan kibarkan bendera merah putih, di hari ulang tahun Indonesia ke 73.

Tiba di Rumah Kerinci

Jam 7 malam kami tiba di basecamp Kerinci, Bang Wawan menyambut kami dengan hangat. Disini kami diterima di ruangan besar yang dapat digunakan untuk istirahat. Setelah taruh semua barang, kami ngobrol bareng Bang Wawan. Dia sudah atur semua, besok pagi 1 porter dan 1 guide lokal akan datang jam 7, lalu akan ada pickup menjemput untuk bareng pergi ke basecamp, regis ulang, lalu penanjakan kira-kira akan mulai jam 8. Makanan beres, minuman juga beres, namun kami rasa kami tetap harus perlu beli minum, jadi Li Bin dan Cornel pinjam motor bang Wawan, pergi beli minuman, snack ringan, madu dan Tolak Angin.

Makan Malam Perdana di Kerinci

Setelah semua selesai mandi, kami ke rumah Bang Wawan untuk makan malam, dan benar makanannya sudah siap semua, dimasak oleh ibunda Bang Wawan sendiri. Rasanya seperti lagi Live In, makan ditengah keluarga inti mereka, sambil ngobrol sama ibunya tanya-tanya tentang makanan enak yang kami santap ini. Malam ini kami makan ikan lokal yang dimasak balado, sayur pucai, telur balado.

Selesai makan, kami kembali ke rumah, packing-packing lagi, meninggalkan barang-barang yang nggak perlu dibawa, dan dinginnya malam dengan sendirinya mengantarkan kami semua untuk tidur cepat.

16 Agustus 2018

Nggak ada alarm yang sempat berbunyi karena kami semua bangun lebih cepat. Jam 6 pagi nenek pemilik rumah sudah menyiapkan masakan singkong goreng, dan kami segera menyelesaikan final packing lalu menuju menyantap makanan ini. Ternyata disana masih menggunakan kayu bakar, pantes rasa aroma kayu bakar sangat kerasa sekali.

Selesai snack pagi, kami disuguhkan menu yang sama seperti semalam sebagai sarapan. Tetap, telor balado yang paling enak, bagian yang paling menyenangkan ialah saat telur dipotong, kuning telurnya masih setengah matang dan kuningnya lumer keluar. Kami bertiga sepakat, sejauh ini makanan disinilah yang paling enak.

Perjalanan Menuju Basecamp Kerinci

Jam 7.30 pagi, kami semua sudah dijemput pickup, carrier masuk, kami masuk, mobilpun bergerak menuju basecamp. Kerinci di pagi hari terlihat makin menakjubkan.

Sesampai di basecamp, kami registrasi ulang, lalu pickup berhenti di tempat terakhir. Disini kami berpisah dengan bang Wawan, dan foto bersama, muka masih pada seger semua ya, masih happy. Nanti kita lihat ya kalau sudah turun bakal gimana bedanya.

8.30 AM | Pendakian dimulai

Carrier sudah berada di punggung kami semua, dan kami memulai penanjakan. Pagi ini udara begitu cerah, begitu bersih. Tidak lama untuk mencapai pintu kedatangan. Lalu medan berubah menjadi hutan yang sangat lebat, hingga matahari tidak bisa masuk begitu saja mengenai kami. Sangat teduh, sangat landai.

8.50 AM | Tiba di Pos 1

Kayaknya baru mulai jalan tapi sangat cepat tiba disini. Di pos ini kami cuma istirahat 1-2 menit lalu jalan lagi. Tidak ada medan yang sulit, semuanya bisa dibilang cukup landai.

9.54 AM | Tiba di Pos 2

Pos 1 ke Pos 2 kami lalui sekitar 1 jam, medan mulai sedikit banyak tanjakan berbentuk tangga, kadang melompati batang pohon besar yang menutupi jalan. Disini kami baru mulai istirahat agak lebih lama sebelum memutuskan berjalan lagi.

11.03 AM | Tiba di Pos 3

Nah nah ini nih, kaki sudah mulai pegal, tanjakan juga makin banyak dari pos 2 ke pos 3. Kami tadinya mau makan siang disini tapi karena nanggung pingin lebih cepet sampai jadi kami istirahat lagi, porter membuka makanan cemilan markis abon. Selesai tenaga terisi , kami lanjut berjalan.

3.00 PM | Tiba di Shelter 3

Dari Pos 3 itu rutenya akan melewati Shelter 1 - 2 - 3. Selama 3 shelter ini ya... ampun, gw ga sempet lagi ambil foto karena badan sudah berasa autopilot, tenaga habis karena tanjakannya nggak cuma pakai kaki buat naik ke atas tapi tanganpun juga harus banyak main untuk dapat pegangan ke batang-batang pohon lalu menarik seluruh tubuh ke atas. Nggak terhitung lagi berapa kali rasanya lutut menyentuh dagu. Inilah rute terberat, sudah berapa kali rasanya gw mau berhenti tapi tetap selalu ada dorongan kuat buat ayok jalan terus, pasti bisa, pasti cepat sampai, jangan kasih istirahat lama-lama, tetap jaga pace berjalannya, jangan menyerah. Tepat sampai di Shelter 3, rasanya sangat-sangat senang lihat banyak tenda berjejer disana, gw langsung taruh carrier, bersandar ke carrier dan menutup mata sambil nafas tersengal-sengal, sangat terasa detak jantung begitu cepat lalu pelan-pelan berdetak makin menuju normal lagi.

Selama gw terkapar, porter mencarikan tempat tenda, setelah ketemu dia balik lagi dan mengajak kami semua masuk tenda. Untung kami cuma bertiga ya jadi terasa sangat lega di tenda berisi 4 orang ini. Setelah semua saling berganti pakaian yang telah sangat-super-sekali basahnya, lalu semua mengambil posisi tiduran, dan tidur. Udara mulai pelan-pelan dingin, kabut mulai naik lagi, kami tidur cukup lama, sekitar jam 6 malam kami bangun, ngobrol lagi begitu banyak hal. Salah satu yang menarik ialah Li Bin yang merasa disini orang-orangnya sangat ramah, mudah tersenyum, dan sejauh ini dia sangat senang dengan seluruh pengalamannya di Indonesia, makanannya enak-enak juga.

17 Agustus 2018

3.30 AM | Bergerak , Waktunya Summit!

Kami semua pasang alarm jam 3 pagi, sarapan diantar jam 3.10 berupa roti tawar dan coklat kental manis sachet. 3.30 kami semua cuma membawa air minum, dan bendera, lalu perjalanan menuju puncak dimulai. Medan kali ini dari shelter 3 menuju puncak sudah berubah lagi, semua yang kami injak berbentuk berbatuan dari yang kecil ke besar.

Tadinya gw sudah nggak yakin bisa berjalan cepat mengingat kaki kiri kemarin pas di tenda sudah sangat sakit, bahkan saat tidurpun gw bisa tiba-tiba terbangun karena kakinya sakit. Ternyata, pagi ini gw bisa nanjak lebih cepat, rasa sakit tetap ada tapi seperti sudah menjadi kesatuan dengan rasa sakit dari bagian-bagian lain di kaki, paha, tangan.

Semakin kami berjalan, matahari perlahan keluar, memberi gambaran jelas kemana arah yang kami tuju, puncak pelan-pelan terlihat makin dekat dan dekat. Hingga tinggal beberapa langkah kaki menuju puncak gw masih suka nggak percaya kalau kaki ini bisa mengantarkan gw sampai ke puncak. Sesampai disana meledaklah seluruh rasa gembira, senang, haru, kami bertiga telah mencapai puncak. Sangat luar biasa. Li Bin sangat semangat saat mengeluarkan bendera negaranya, lalu gw meminjam salah satu bendera disana yang katanya sudah ada disana dan didapat dari usaha memperebutkan kemerdekaan, makanya benderanya sangat tua. Lalu kami mengabadikan momen ini, momen yang nggak akan pernah kami semua lupakan.

Bendera 400m

Saat kami turun , tiba-tiba dari bawah ada begitu banyak orang sukarela menarik bendera yang sangat panjang dari bawah ke atas. Ternyata terbentanglah 400m bendera Indonesia, lalu ada 1 orang ketua panitia mungkin mengaba-aba untuk menyanyikan lagu Indonesia Raya.

Disanalah, pertama kalinya dalam hidup gw, Indonesia Raya bisa berkumandang sedemikan kuat, sangat terasa getaran semua orang bernyanyi dengan lantang, kuat, jelas. Gw baru tau kemudian saat sudah turun nanti kalau suara Indonesia Raya ini terdengar sampai di Pos 2.

7.50 AM | Kembali ke Tenda

Sudah puas menikmati bendera yang panjang ini, lalu kami pelan-pelan turun lagi ke bawah. Sesampai di tenda packing lalu lanjut lagi turun ke bawah sekitar pukul 10 AM. Iyak! Hari ini juga kami langsung turun, jadi dari ketinggian 3805mdpl inilah kami di hari yang sama akan sampai di bawah nanti sore. Disinilah momen paling berat, lagi-lagi kaki kiri gw tidak lagi bisa bekerja sama, saking lelahnya dan sakitnya, kalau ada pohon besar menutup jalan gw harus mengangkat kaki dengan 2 tangan, tidak ada lagi tenaga menuju kaki yang kuat mengangangkat kaki gw sendiri.

Shelter demi shelter, pos demi pos terasa lama. Air pun sudah habis, dan gw harus sedikit meminta ke orang yg lewat hanya ambil sedikit agar tenggorokan tidak kering. Ternyata momen paling emosional bagi gw adalah saat gw melihat pintu keluar, pintu terakhir, sontak gw teriak sekencang-kencangnya "sampaaaaiiiiii". Sangat emosional, pendaki lainpun juga ikut bilang selamat, dan kami semua saling menyelamati satu sama lain, yak kami sudah menyelesaikan perjalanan Kerinci ini.

Foto terakhir banget dari kami bertiga ini menandakan perjalanan ini resmi selesai. Biarpun tadi hujan besar turun, dengan semua sakit pegal yang kami rasakan, kami mulai penanjakan bersama, dan berkumpul lagi di tempat awal penanjakan ini bersama-sama lagi. Pukul 4.30 PM semuanya telah selesai. Terima kasih Nel and thank you Li Bin, see ya on next trip :D