805 Barbershop Paska Pandemi

Setelah 3 bulan menjalankan Work From Home , tibalah nota baru yang berisi instruksi untuk mulai kembali bekerja di kantor. Senang, akhirnya bisa ketemu teman-teman kerja lagi. Kerja dirumah itu terkesan mungkin menarik dan nyatanya memang seru buat dijalankan di bulan pertama karena bisa atur jam kerja sendiri, lebih hemat dari sisi transportasi dan jajan-jajan sana-sini yang berkurang, namun memasuki bulan ke dua, dan bahkan di bulan ketiga, jenuh ya ternyata. Ketemu teman kerja langsung, bercanda hal remeh, nongkrong santai sore setelah jam kerja sambil nyeruput kopi, main fifa di corner room, meeting seru sambil debat ini-itu mempertahankan argumen sendiri, dan ngadepin pusingnya kerjaan di 1 meja panjang bersama tim, ternyata rindu juga sama semua itu. Dan besok senin akhirnya masuk lagi. Berhubung 3 bulan ini menjalankan #dirumahaja dengan baik, rambutpun sudah panjang banget, jadi weekend ini memberanikan diri cari barbershop bagus yang ada protokol kesehatannya.

805 Barbershop

Kemarin pas cari juga sebenarnya cuma kebetulan ketemu tempat ini, saat itu lagi ada di daerah Cilandak, terus cari-cari pas datang ke tempat pertama ternyata antriannya panjang, lalu googling lagi dan ketemulah 805 Barbershop ini. Dekat sekali dengan PIM.

Yang menarik adalah obrolan dengan Mas Pitroh, orang yang memotongkan rambut gw. Dia cerita sejak bulan Maret saat pemerintah mulai melakukan PSBB, dia pun langsung kembali ke kampungnya di Garut setelah mengetahui bahwa barbershop itu harus tutup per Maret kemarin. Selama ini istri nya tinggal di Garut dan di masa normal dia selalu kembali 2-3 minggu sekali. Selama 3 bulan ini dia menemani sang istri yang memasuki bulan ke 5 kehamilan sejak dia pulang kampung. Pekerjaannya selama 3 bulan hanya bantu-bantu jaga toko. Senang katanya, walaupun pendapatan terbatas tapi punya waktu lebih banyak dengan istrinya. Menemani proses kehamilan selama pandemi ini pun cukup mengkhawatirkan, karena ada rasa takut ke RS maka cek USG pun lebih jarang. Bahkan pernah dokter menolak karena mengetahui ada rekam jejak Mas Pitroh ini kembali dari Jakarta, sehingga satu keluarga harus mengikuti rapid test dulu. Untungnya pemerintah Garut menyediakan rapid test gratis. Kemudian setelah mengetahui PSBB akan berakhir, dia kembali lagi ke Jakarta, dan barbershop dibuka 2 hari sebelum kedatangan gw.

Persiapan pembukaan barbershop dilakukan, setiap kali ada tamu yang akan mau potong, Mas Pitroh akan berganti sarung tangan dengan yang baru, mengganti ujung extension alat cukur, menyapu bersih semua rambut di lantai, menyemprot semua perlatan potong, lantai, dan barang disekitar dengan disinfektan. Kemudian barulah tamu dipanggil. Mas Pitroh pun selama memotong sudah menggunakan masker dan full face shield . “Merasa ribet nggak mas dengan protokol-protokol kayak sekarang ?” tanya gw, dan dia cerita justru lebih nyaman seperti ini, merasa lebih aman karena dia benar-benar nggak mau mati konyol mengingat pekerjaannya benar-benar bersentuhan langsung dengan orang-orang. Setuju sekali, preventif itu lebih baik, apalagi pandemi ini sangat gampang menular.

Cukup lama juga potongnya, kebetulan waktu itu nggak ada yang antri lagi jadi cerita mengalir juga. Tak terasa sudah selesai, dan gw lebih siap masuk kantor lagi senin besok.

Terima kasih sayang aku yang sudah nemenin dan traktir potong rambut ternyata. Pasrah ya aku dipotong model apa bebas, dan dipilihin undercut haha. Untuk hasil potongan Mas Pitroh pun bagus, recommended.

Sebelum

Sesudah

1 Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s