/ 201711

Review Museum MACAN Sebagai Museum Seni Modern dan Kontemporer Pertama di Indonesia

Museum of Modern and Contemporary Art in Nusantara lahir dari seorang kolektor seni sekaligus pengusaha, Haryanto Adikoesomo, yang membutuhkan waktu 25 tahun untuk mengumpulkan seluruh 800 karya seni yang dipamerkan disini. Usaha begitu panjang akhirnya membuahkan hasil, museum bertaraf Internasional ini baru saja diresmikan Jumat 3 November, 2017, dan sudah bisa dibuka untuk umum keesokan harinya. Inilah museum seni kontemporer pertama di Indonesia.

Lokasi & Biaya

Museum dibangun di dalam AKR Tower , lantai 5, terletak di jalan Panjang, Jakarta Barat. Menuju kesini bisa menggunakan kendaraan pribadi, atau Busway turun di halte Kebon Jeruk, lalu jalan kaki sekitar 10 menit. Masuk gedung, naik eskalator terus ke atas hingga kita disuguhkan hall besar lokasi museum ini berada.

Untuk biaya masuk dikenakan Rp. 50.000 per orang dewasa, Rp. 40.000 untuk pelajar, dan Rp 30.000 untuk anak-anak. Tiket bisa dibeli ditempat, atau melalui online di link ini . Saran gw pribadi mending beli online biar nggak antri panjang. Ketika beli online ada range waktu kedatangan yang menjadi validity time dari tiket itu, pilihlah yang sesuai dengan jam kedatangan. Ketika datang, cukup scan barcode dari handphone, tidak ada batasan berapa lama kalian bisa di dalam.

Mengenai Museum

Semangat dari museum ini dibangun adalah memberikan akses kepada publik agar bisa melihat dan menikmati koleksi seni modern dan kontemporer yang tidak hanya unik, tapi juga terus berkembang. Akan ada banyak acara, diskusi publik yang nantinya akan diadakan disini, dimana seluruhnya tetap mengangkat pendidikan seni sebagai jantung dari tiap programnya.

Dibagi 4 bagian

Museum ini secara besarnya terbagi atas empat bagian tematis yang menghubungkan empat periode berbeda yang berkesinambungan , yaitu

  • Land, Home, People (1800an-1945)
  • Independence and After (1945-1965)
  • Struggles Around the Form (1965-1998)
  • The Global Soup (1998-seterusnya).

Mengusung tema Art Turns, World Turns , ingin menunjukan bahwa memang seni akan terus mengalir, berkembang secara dinamis.

art turns. world turns

Land, Home, People - (1800an-1945)

Pada era sebelum kemerdekaan, banyak karya seni yang menceritakan kondisi Indonesia saat itu, atau yang ideal diharapkan. Karya Raden Saleh, Walter Spies, Miguel Covarrubias dan I Gusti Nyoman Lempad terpajang di area ini


Self Portrait (1835) - Raden Saleh

Independence and After - (1945-1965)

Karya bagian ini sebagian besar dibuat setelah perang dunia ke 2 dan proklamasi kemerdekaan Indonesia. Selama masa Revolusi Nasional Indonesia (1945-1949), republik ini berjuang untuk mempertahankan kedaulatan seni yang tidak terpisahkan dari perjuangan politiknya. Seniman Indonesia menampilkan hasil karya bertema nasionalis untuk mengilhami masyarakat.


Bung Karno di Tengah Perang Revolusi (1966) - Dullah

Digambarkan presiden pertama Indonesia sedang di antara para pejuang kemerdekaan. Tidak dibuat berdasarkan peristiwa sejarah, namun memiliki kemiripan dengan pemandangan dari pidato bersejarah Soekarno di Lapangan Ikatan Atletik Djakarta (IKADA) pada 19 September 1945, dimana ribuan orang berkumpul di belakang presiden yang belum lama dilantik dan masih dibawah pengawasan ketat tentara Jepang. Lukisan ini tidak hanya menunjukan simpati seniman kepada beliau, tapi juga sebagai pengingat bagi rakyat Indonesia untuk bersatu. Merdeka atau mati!

Struggles Around the Form - (1965-1998)

Sepanjang 1960 dan 1970an, seniman Indonesia terus membangun identitas artistik mereka. Mereka mencoba membangun hubungan dengan negara lain, bahkan beberapa dari mereka menerima dana hibah untuk bepergian ke Asia dan Eropa. Saat itu era perang dingin antara Amerika Serikat dan Uni Soviet masih berlangsung, hasilnya kecenderungan artistik kedua kubu itu hadir di Indonesia. Di satu sisi, terdapat nilai universal dan eksperimental dalam karya abstrak Srihadi Soedarsono, Nashar, dan Mark Rothko. Di sisi lain, terdapat nilai kemasyarakatan dan kolektif dalam karya figuratif Djoko Pekik, Soetopo, dan Luo Zhongli.

The Global Soup - (1998-seterusnya)

Reformasi 1998 menandai era baru dalam sejarah Indonesia. Keruntuhan pemerintahan Soeharto pada 21 Mei 1998 membuka kebebasan artistik dan melahirkan generasi seniman kontemporer yang lebih beragam yang dapat berkarya di ranah internasional. Mereka hadir dalam dunia dimana globalisasi ekonomi dan kebudayaan tengah berlangsung dan ketertarikan pada seni di seluruh dunia tumbuh dengan pesat.


Juling (2005) - I Nyoman Masriadi


ASEAN +3 (2017) - Yukinori Yanagi


A Father is Trying to Collect the Memories of His Family (2016) - I Dewa Ngakan Made Ardana


Choir (2000) - Liu Ye


I Do Not Rule My Dreams, My Dreams Rule Me (2010) - Takashi Murakami

Secara keseluruhan, sangat diapresiasi dan perlu dukungan yang terus menerus pada museum ini , semoga melalui museum sebaik ini bisa menginspirasi dan mengedukasi sebanyak mungkin pengunjung yang sudah hadir dan akan hadir. Dan semoga kelak semakin banyak lagi museum berkelas internasional yang tumbuh dan hadir di tengah ibu kota kita ini.