/ 201710

Pesona Gunung Guntur, Garut

Indonesia dikenal sebagai negara yang memiliki begitu banyak gunung, dan Gunung Guntur adalah salah satunya. Terletak di Garut, dia menjadi salah satu dari beberapa gunung yang biasa dinaiki oleh pendaki yang bepergian ke Garut, yaitu Gn. Papandayan dan Gn. Cikuray. Ketinggian Gn Guntur ini sendiri tidak begitu tinggi, 2249 mdpl, namun jangan salah sangka, track menuju puncaknya sangat menantang. Memang tidak seperti Cikuray yang medannya membutuhkan stamina banyak karena tanjakannya tinggi-tinggi, kalau di Garut stamina akan diuji dan kelihaian dalam memilih trackpun juga sangat mempengaruhi waktu pendakiannya.

Pendakian Pertama

Yak! gw melakukan pendakian pertama ke gunung Guntur ini sekitar 16 September lalu. Bersama rombongan yang bareng gw juga ke Rinjani, plus kali itu ada ade gw sendiri yang juga ikut. Perjalanan ditempuh dari Kampung Rambutan, dapat bus Kharunia Bakti yang berangkat pukul 8 pagi , Sabtu.

Tiket 52 ribu, dan kami ber 6 tiba di Pom Bensin Tanjung sekitar pukul 1. Dilanjutkan dengan angkot yang khusus menunggu anak-anak yang mau mendaki Guntur, biayanya 100 ribu untuk 6 orang. Tak lupa kita mampir ke Indomaret untuk beli minuman, snack, dan juga gas portable untuk kita makan nanti. Jam 2 pun sudah sampai basecamp, istirahat dan mengisi formulir. Disana kita juga bisa leyeh leyeh dulu nunggu sore dan sempat makan siang juga.

lalu jam 3 kami pun memulai penanjakan. 4 jam kemudian kami sampai semua di Pos 3 , tempat dimana tenda wajib dibangun. Track dari basecamp ke pos 3 tidak begitu curam, bisa dilalui dengan enteng untuk kalian yang pakai sepatu sendal gunung sekalipun. Pemandangan nya juga cukup bagus dan asri, ada beberapa bagian tempat yang terasa lagi di hutan.

Malam itu kami semua masak spaghetti dengan bumbu instan La Fonte, enak! 1 kantong spaghetti ternyata bisa untuk makan kenyang 6 orang. Usai kenyang kita minum anget-anget dan semuanya tidur. Jam 3 subuh tepat kita semua bangun dan bersiap-siap menuju puncak.

Kami ber 6 pun memulai penanjakan. Saat itu bulan tidak begitu terang sehingga headlamp menjadi sesuatu yang sangat mewah mengingat medan yang kami tempuh cukup berat memiliki kemiringan sampai 30 derajat. Awalnya kami berjalan bareng namun di tengah kami terpisah menjadi 2 kelompok. 3 didepan 3 dibelakang termasuk gw dan adik gw di bagian belakang. Untuk tracknya itu ada variasinya terkadang kalau kita berjalan di bagian tengah, akan melewati bebatuan kecil-kecil begitu banyak sehingga setiap pijakan kaki akan tenggelam sedikit. Hal ini sangat menyulitkan bagi kami yang menggunakan sepatu sendal. Walaupun sudah memakai kaus kaki tapi tetap saja batu kecil itu akan masuk di antara telapak kaki dan alas sandal. Sehingga banyak istirahat diperlukan untuk membersihkan batu yang terselip.

Kami sebenarnya sudah tau bahwa ada yang namanya jalur rumput yang tidak banyak batu namun saat itu kami tidak menemukannya. Alhasil tiap 1 pijakan disertai kaki terseret kebelakang membuat menguras begitu banyak energi. Sampai akhirnya adik gw nggak kuat. Saat itu Adi sudah didepan. Dan lalu ya sudah gw dan adik gw cukup melihat terbitnya matahari yang pelan-pelan terlihat. Lalu kami memutuskan turun lagi. Sementara yang lain akhirnya bisa mencapai puncak.

Kamipun kembali dan memasak sarapan nasi goreng. Lalu beberapa jam kemudian semua kumpul lagi di tenda, kitapun packing dan bersiap-siap turun.

Cukup mengecewakan bagi gw pribadi karena selama persiapan penanjakan ini gw sangat antusias. Tapi nggak apa apa, ternyata 3 minggu setelahnya gw lakukan penanjakan kedua. Ceritanya seperti apa ditunggu ya.